MAKALAH
Landasan filosofis pendidikan kontruktivisme dan pendidikan nasional (pancasila)
Dosen pembimbing : Mustakim JM, M.Pd.
Kelompok 4 : Mery Popiyana (1888203010)
Shella Widia (1888203007)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
PEKANBARU
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkonstribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami, semoga, makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadia lebih baik lagi.
Karna keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah landasan filosofi kontruktivisme dan pendidikan nasional (Pancasila) semoga dapat menambah inspirasi terhadap para pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I 1
Pendahuluan 1
I.1. Latar Belakang 1
I.2 Rumusan Masalah 2
I.3 Tujuan Pembelajaran 2
BAB II 3
Pembahasan 3
II. 1 Pengertian Konstruktivisme 3
Ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme 3
Prinsip - Prinsip Konstruktivisme 4
II.2 Pembelajaran Menurut Konstruktivisme 5
II.3 Kendala - Kendala Dalam Penerapan Pembelajaran Menurut Konstruktivisme 6
II.4 Pengertian Filsafat Konstruktivisme 6
Filsafat Konstruktivisme 7
II.5 Konsep Filsafat Umum 7
1. Metafisika 7
2. Epistemologi dan Aksiologi 9
II.6 Implikasi terhadap Pendidikan 10
II.7 Tujuan Pendidikan Aliran Konstruktivisme 11
1. Kurikulum pemdidikan menurut aliran konstruktivisme 11
2. Metode Pendidikan Konstruktivisme 12
3. Peranan Pendidik dan Peserta didik 12
II.8 Pengertian Pancasila 15
II.9 Kebudayaan 16
II.10 Kebudayaan Dan Pancasila 16
II.11 Pancasila Berakar Dari Kebudayaan 17
Landasan Filosofis Pendidikan Nasional: Pancasila 18
Implikasi terhadap Pendidikan 19
BAB III 22
Penutup 22
1. Kesimpulan 22
2. Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 24
BAB I
Pendahuluan
I.1. Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya tingkat kehidupan maka pendidikan pun menjadi lebih kompleks , oleh karena itu, tentu saja hal ini membutuhkan sebuah desain pendidikan yang tepat dan sesuai dengan kondisinya. Sehingga berbagai teori , metode dan desain pembelajaran serta pengajaranpun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasikan semakin beragamnya tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan itu sendiri. Yakni bagaimana menciptakan sebuah kehidupan lebih baik yang tercipta dari proses pendidikan yang konstektual dan mampu menyerap aspirasi zaman tepat dan sesuai .
Guru di dalam melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih optimal, Selayaknya seorang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing - masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar, Namun setidak - tidaknya ada karakteristik tertetu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan pembelajaran adalah pendekatan kontruktivisme. Martin EL AL ( Dalam Getson Ratumanan 2012) Mengemukakan bahwa kontruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling memengaruhi dari belajar sebelum dengan belajar baru. Selain itu landasan pendidikan pancasila terdapat nilai-nilai pancasila yang berakar dari budaya bangsa indonesia sebagai bangsa indonesia. Kita tentu mengetahui dasar negara kita yang terkenal akan kesaklarannya, Yaitu “ BHINEKA TUNGGAL IKA”. Dimana simbolnya merupakan lambang keagungan bangsa indonesia yang terpancar dalam bentuk Burung Garuda . Simbol didadanya merupakan pengalaman hidup yang menjadikan indonesia benar - benar khas ideologi dari bangsa indonesia. Tidak jauh dari hal tersebut, pancasila membuat indonesia tetap teguh dan bersatu didalam keragaman budaya dan menjadikan pancasila sebagai dasar kebudayaan yang menyatukan budaya satu dengan budaya lain
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
Apa yang dimaksud dengan kontruktivisme?
Bagaimana Pembelajaran menurut kontruktivisme?
Apa saja kendala – kendala dalam penerapan pembelajaran menurut kontruktivisme?
Apa yang dimaksud dengan filsafat kontruk?
Apa saja konsep dari filsafat kontruktivisme?
Bagaimana implikasi filsafat kontruktivisme terhadap pendidikan?
Apa tujuan pendidikan aliran kontruktivisme?
Apa yang dimaksud dengan pancasila?
Apakah yang dimaksud dengan kebudayaan?
Mengapa pancasila berakar dari kebudayaan?
Bagaimana bisa pancasila berakar dari kebudayaan di Indonesia?
I.3 Tujuan Pembelajaran
Mengetahui pengertian , ciri – ciri serta kendala – kendala dalam penerapan kontruktivisme
Mengetahui pengertian, konsep dan implikasi kontruktivisme terhadap pendidikan
Mengetahui tujuan pendidikan aliran kontruktivisme
Mengetahui pengertian dari pancasila
Mengerti arti kebudayaan, alasan pancasila berakar dari kebudayaan kita
BAB II
Pembahasan
II. 1 Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata kontruktiv dan isme. Kontruktiv berarti bersifat membina, mempelajari, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan isme dalam kamus bahasa indonesia berarti paham atau aliran . Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan dalam pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, Sedangkan guru yang membimbing siswa ketingkat pengetahuan yang lebih tinggi.
Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan bantuan fasilitas orang lain. Sedangkan menurut Martin El Al mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan bahwa pentingnya sikap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai landasan pradigma pembelajaran , Konstruktivisme menyerutkan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembangan untuk mengembangkan pengetahuan sendiri.
Ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme
Menurut suparno ( 1997:49) secara garis besar prinsip - prinsip konstruktivisme yang diambil adalah
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial.
Pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan kreativitas siswa sendiri untuk bernalar.
Siswa aktif mengkonstruksikan secara terus - menerus sehingga terjadi perubahan konsep ilmiah,
Guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Berikut ini ciri-ciri pembelajaran menurut beberapa literatur yaitu :
Pengetahuan dibangun berdasarkan pengelaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Belajar adalah proses penafsiran tentang dunia
Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan ( Negoisasi ) makna melalui bebagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Prinsip - Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar prinsip - prinsip konstruktivisme yang di terapkan dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut :
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya keaktifan menalar.
Murid aktif mengkonstruksikan secara terus - menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan lancar
Struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pernyataan.
Mencari dan menilai pendapat siswa
Menyesuaikan bahan pengajaran untuk menggapai anggapan siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.
II.2 Pembelajaran Menurut Konstruktivisme
Siswa mencari arti sendiri yang dari mereka pelajari, ini merupakan proses penyesuaikan diri konsep - konsep dan ide - ide baru yang dengan membentuk kerangka pikiran yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk pengetahuan sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu.
Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang telah dimaksud disini adalah suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan memperhatikan perspektif siswa sekolah dasar. Pembelajaran yang dimaksud adalah diatas pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa, menerangkan pada kemampuan mind - on serta terjadi insteraksi dan mengakui adanya konsep awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
Dalam pelaksanaan teori konstruktivisme ada beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran yaitu sebagai berikut :
Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa.
Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
Adanya lingkungan sosial yang komperansif
Adanya dorongan agar siswa mandiri
Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
II.3 Kendala - Kendala Dalam Penerapan Pembelajaran Menurut Konstruktivisme
Kendala-kendala yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Sulit mengubah keyakinan dan kebiasaan guru.
Guru kurang tertarik dan mengalami kesulitan mengelola kegiatan pembelajaran berbasis konstruktivisme.
Adanya anggapan guru bahwa penggunaan metode atau pendekatan baru dalam pembelajaran akan menggunakan waktu yang cukup besar
Sistem evaluasi yang masih menekankan pada nilai akhir.
Besarnya beban mengajar guru, latar pendidikan tidak sesuai dengan mata pembelajaran yang diasuh dan banyaknya pelajaran yang harus dipelajari siswa merupakan cukup serius.
Siswa terbiasa menunggu informasi dari guru.
II.4 Pengertian Filsafat Konstruktivisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Konstruksi berarti Binaan, Bangunan, atau Bentukan. Sedangkan Isme adalah aliran. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, membangun atau membentuk. Dapat disimpulkan pengertian Konstruktivisme adalah aliran-aliran yang bersifat membangun, memperbaiki atau membentuk suatu kebenaran.
Konstruktivisme adalah sebuah pengetahuan yang dianggap benar apabila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomenayang tidak sesuai.
Filsafat konstruktivisme adalah sebuah aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kita sendiri. Giambatista Vico seorang epistemolog dari Italia mengatakan mengenai konstruktivisme “..seseorang dapat dipandang mengetahui jika ia dapat menjelaskan unsur - unsur yang membangun sesuatu itu serta mengetahui bagaimana membuat sesuatu itu”. Dari hal tersebut sudah dapat di simpulkan mengenai pengertian Aliran Filsafat Konstruktivisme, sebagai aliran pemikiran yang menganggap bahwa pengetahuan itu berasal dari aktifnya pemikiran seorang individu dalam konstruksi atau bentukan diri sendiri.
Filsafat Konstruktivisme
Para penganut faham ini meyakini bahwa panca indra lah satu-satunya alat, sarana, atau media yang tersedia bagi seorang individu untuk mengetahui segala sesuatu. Seseorang berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara melihat, mendengar, mencium, dan merasa untuk membangun gambaran dunianya, untuk membangun membentuk suatu pengetahuan dan kebenaran. Simpulnya konstruktivisme mengajarkan hakikat kebenaran itu ialah apa-apa yang dibangun indra kita. Manusia adalah obyek yang menjadi subyek dalam realitas alam semesta.
II.5 Konsep Filsafat Umum
1. Metafisika
Hakikat Realitas : menurut pemahaman konstruktivisme, bahwa manusia tidak dapat pernah mengerti realitas sesungguhnya secara ontologis (hakikat keberadaan). Kita hanya dapat mengerti mengenai struktur konstruksi dari suatu obyek. Bentukan atau konstruksi itu harus berjalan dan tidak harus selalu merupakan representasi dunia nyata. Mengenai hal ini Vico meyakini bahwa hanya Tuhan-lah yang dapat mengerti alam raya ini, sebab hanya dia yang tau bagaimana membuatnya. Sedangkan manusia hanya mengerti apa yang di konstruksikannya. Konstruktivisme tidak bertujuan untuk kita dapat mengerti mengenai realitas secara ontologis, tetapi lebih melihat pada bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu. Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang yang mengetahui, maka hal itu tidak dapat di berikan atau di ajarkan kepada individu nyang pasif, seorang individu yang menerima informasi haruslah membangun kembali apa yang ia dapat, lingkungan atau obyek lainnya hanya sebuah sarana untuk terjadinya sebuah konstruksi.
Dalam realitasnya, konstruktivisme menolak prinsip independensi atau prinsip berdiri sendiri dan obyektivitas dari filsafat Realisme atau Empirisme,yang menyatakan bahwa realitas berdiri sendiri, tidak tergantung atau bersandar pada pikiran, jiwa, spirit, maupun roh. Keberadaan realitas berdiri sendiri terlepas dari subyek pengamat,namun terbuka untuk dapat diketahui melalui pengalaman empiris.
Konstruktivisme pun menolak pandangan dari filsafat Idealisme yang mengungkapkan bahwa realitas yang hakiki bersifat ideal/spiritual. Realitas dalam Idealisme diturunkan dari substansi fundamental yang bersifat non-material. Benda-benda yang bersifat material yang tampak nyata sesungguhnya di ciptakan dari pikiran/jiwa/roh. Sedangkan dalam konsep konstruktivisme realitas itu tiada lain adalah fenomena sejauh dari apa yang difahami oleh orang yang menangkapnya.
Dalam konstruktivisme bentuk kenyataan bergantung pada kerangka bentukan yang dibuat individu dan dari interaksi pengamatan individu dengan obyek yang ia amati. Demikian para ahli konstruktivisme tidak bertujuan untuk mengerti realitas, tetapi lebih melihat bagaimana individu atau manusia menjadi tahu akan suatu hal.
Manusia : Dalam pandangan konstruktivisme, manusia dipandang bukan sebagai tabula rasa, tetapi manusia dituntut untuk aktif membangun pengetahuannya sendiri. Manusia dalam konstruktivisme dipandang sebagai obyek yang menjadi subyek dimana hanya Tuhan-lah yang tahu akan makna realitas, dan manusia hanya mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan oleh dirinya. Giambatista Vico mengatakan dalam karyanya Antiquissima Itolarum Sapienta. Ia mengatakan “..Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Tuhan sebagai subyek utama kemudian menciptakan alam semesta beserta isinya dan menciptakan manusia, dan kemudian manusia menjadi subyek dari apa-apa yang Tuhan ciptakan. Mengkonstruksi, membangun dan membina obyek dengan sarana indera nya yang menjadi sebuah pengetahuan.
2. Epistemologi dan Aksiologi
Giambatista Vico seorang epistemolog asal Italia yang juga tokoh dari cikal bakal terbentuknya pemahaman mengenai konstruktivisme, atau dapat di katakan sebagai filosof konstruktivisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan berasal dari luar, atau apa - apa yang tergelar di alam semesta yang kemudian di konstruksikan dari dalam diri individu melalui panca inderanya. Dilihat dari beberapa penjabarannya konstruktivisme memuat beberapa filsafat lain, dalam pernyataan bahwa sumber pengetahuan berasal dari luar hal ini seperti mengutip dari faham realisme. Realisme meyakini pengetahuan yang didapat berasal dari hal-hal yang nyata diluar sana, bukan berasal dari pemikiran manusia. Selain realisme, konstruktivisme pun memuat filsafat idealisme yang menyatakan bahwa sumber pengetahuan diperoleh dari proses berfikir manusia. Hal ini sesuai dengan penjabaran konstruktivisme yang meyakini bahwa penetahuan itu dibangun, dikonstruksikan oleh diri individu itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa filsafat konstruktivisme adalah muatan dari filsafat realisme dan idealisme.
Bagi para penganut kepercayaan konstruktivisme pengetahuan itu bukanlah sekedar potret kenyataan dunia semata, tetapi pengetahuan adalah hasil dari konstruksi atau bentukan melalui kegiatan subyek. Dimana subyek itu adalah manusia itu sendiri. Pengetahuan yang dibentuk ini selalu merupakan konsekuensi dari konstruksi kognitif mengenai kenyataan melalui kegiatan seseorang.
Kebenaran pengetahuan dalam konstruktivisme diganti dengan viability. Yang dengan viabilitas ini, konstruktivisme hanya mementingkan berlakunya suatu konsep, maka pengetahuan manusia ada tingkatannya, diantaranya ada pengetahuan yang berlaku untuk banyak persoalan dan pengetahuan yang hanya cocok untuk beberapa persoalan saja. Dari kebenaran ini pengetahuan memiliki sifat-sifat, bersifat subyektif karena pengetahuan konstruktivisme menunjuk pada pengalaman dan pemikiran seseorang akan dunia, daripada dunia itu sendiri. Pengetahuan itu tidak dapat ditransfer kepada individu lain dengan mudah dapat dicerna oleh yang menerima pengetahuan itu. Pengetahuan dalam konteks konstruktivisme bukan barang yang sekaligus terbentuk, bukan sebuah determenistik, melainkan sebuah proses yang terus berkembang secara kontinyu dan karena itu pengetahuan bersifat relatif. Sehingga menghasilkan sebuah nilai yang bersifat relatif juga bagi penganut konstruktivisme.
II.6 Implikasi terhadap Pendidikan
Konstruktivisme dikenal dalam dunia pembelajaran dengan tokohnya yaitu Jean Piaget (1896 - 1980) dan Lev Vygotsky (1896 - 1934) Piaget mengembangkan teori mengenai perkembangan anak dan kaitannya sebagai belajar. Terdapat dua proses utama yaitu proses asimilasi dan akomodasi yang terjadi ketika individu menggunakan kedua proses tersebut untuk membangun pengetahuan dan pemahamnnya. Dalam tujuan pendidikan nasional yaitu untuk membantu generasi muda Indonesia menjadi manusia yang utuh, menjadi manusia yang sesungguhnya, yang pandai secara kognitif, bermoral sesuai landasan Negara, berbudi luhur, beriman, peka terhadap orang lain, dan yang lainnya.
Penetahuan menurut filsafat konstruktivisme berbeda dengan filsafat klasik, bahwa pengetahuan itu adalah bentukan para peserta didik sendiri. Pendidikan yang di istilahkan oleh konstruktivisme adalah kegiatan mengajar, tetapi bukan mengajar dalam arti mentransfer pengetahuan dari seorang guru kepada murid, mengadar dalam artian konstruktivisme lebih kepada kegiatan untuk siswa/peserta didik membangun dan membentuk pengetahuannya sendiri.
Mengajar yang berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam pengkonstruksian sebuah pengetahuan. Membuat makna, bersikap kritis, dan mempertanyakan pengetahuan, juga mengambil keputusan dari pengetahuan tersebut, atau justrufikasi. Menurut Von Glasersfeld, mengajar dalam konteks ini adalah membantu seorang individu berpikir secara benar, dengan membiarkan dia berpikir sendiri.
Teori konstruktivisme merupakan suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk melakukan proses aktif dalam membangun konsep, pengertian, dan pengetahuan baru berdasarkan data yang diperoleh oleh inderanya. Para tenaga pengajar harus dapat merancang proses pembelajaran dan di kelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong para peserta didik untuk mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Para tenaga pengajar setidaknya menyediakan sarana dan prasarana, juga situasi yang memungkinkan terjadinya sebuah dialog secara kritis perlu dikembangkan.
II.7 Tujuan Pendidikan Aliran Konstruktivisme
Menurut faham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari sebuah teks, ucapan, dialog dan yang lainnya melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian atau pemikiran yang dimiliki seseorang. Tujuan pendidikan konstruktivisme lebih menekankan pada berkembangnya konsep dan pengetahuan yang mendalam sebagai konstruksi aktif dari peserta didik. Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal.
Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau mekanisme pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidikan.
1. Kurikulum pemdidikan menurut aliran konstruktivisme
Kaum Konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas dasar struktur kognitif yang telah dimiliki oleh tiap individu. Hal ini berimplikasi pada proses belajar yang menekankan aktivitas personal peserta didik. Atas dasar pemahamannya, pendidik dituntut untuk merancang pengalaman belajar dan merangsang struktur kognitif anak didiknya untuk dapat berfikir, dan berinteraksi membangun pengetahuan yang baru. Driver dan Oldham (Matthews, 1994) menyatakan, bahwa perencanaan dalam pembuatan kurikulum yang beraliran filsafat konstruktivisme tidak dapat dibuat dengan begitu saja,tidak dengan mengambil kurikulum standar yang menekankan siswa pasif dan guru aktif, sebagai cara mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid. Dalam hal ini pendidik bukanlah seorang yang maha tahu, dan peserta didik adalah yang belum tahu, yang menekankan pendidik untuk memberi tahu. Dalam kurikulum bukanlah sebagai tubuh pengetahuan atau kumpulan keterampilan mengajar, tetapi lebih kepada program aktivitas dimana keterampilan dan pengetahuan dapat dikonstruksikan. Dalam banyak hal pendidik dan peserta didik bersama-sama membangun pengetahuan. Dalam hal ini hubungan diantara keduanya lebih sebagai mitra yang bekerja sama membangun sebuah pengetahuan.
2. Metode Pendidikan Konstruktivisme
Menurut Paul Suparno (1997), setiap pelajar memiliki caranya masing-masing dalam memahami sebuah pengetahuan,. Karenanya mereka memerlukan cara belajar yang tepat untuk dirinya masing-masing. Dalam konteks ini tidak ada metode belajar yang tepat, satu metode belajar saja tidak akan cukup membantu peserta didik. Sehingga disinilah peran pendidik dibutuhkan, para pendidik ini menjadi kolega peserta didik dalam membangun dan mencari tahu cara metode apa yang cocok untuk peserta didik dapat membangun pengetahuannya. Kelompok belajar pun dapat dikembangkan, mengingat pengetahuan itu dibentuk baik secara individual,maupun sosial.
3. Peranan Pendidik dan Peserta didik
Pendidikan sangat berperan penting dalam keseluruhan hidup manusia. Pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik, untuk memenuhi tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terdapat isi yang di interakasikan oleh keduanya, dan proses bagaimana interaksi tersebut dilaksanakan.
Penerapan dalam proses pendidikan aliran konstruktivisme ini memberikan keleluasaan pada peserta didik untuk aktif dalam proses pembuatan pengetahuan yang bermakna sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki masing-masing peserta didik.
Suparno (1997:16) menyatakan bahwa peran pendidik dalam aliran konstruktivisme adalah sebagai fasilitator dan mediator yang memiliki tugas membantu dan mendorong peserta didik dalam pembentukan suatu pengetahuan. Selain itu pendidik juga wajib untuk mengevaluasi hasil dari proses pembangunan pengetahuan yang di lakukan oleh peserta didik. Mengevaluasi hasil dari gagasan yang dibentuk oleh peserta didik, apakah gagasannya sesuain dengan apa yang menjadi tujuan pendidikan ataukah tidak. Dari beberapa penjabaran di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa kriteria tugas ideal sebagai pendidik dalam aliran konstruktivisme, diantaranya :
Berperan sebagai fasilitator pendidik haruslah dapat menerima inisiatif yang di ungkapkan oleh peserta didik untuk membantu proses pengetahuan.
Sebagai kolega dari peserta didik, pendidik dapat merangsang peserta didik dalam proses dialog/interaksi untuk dapat mengukur sampai mana batas berpikir peserta didik tersebut.
Jika tadi pendidik harus dapat merangsang untuk peserta didik dapat terlibat dalam interaksi, dalam hal ini pendidik harus bisa melibatkan atau membawa siswa pada pengalaman atau pemikiran yang mungkin sebelumnya bertentangan dengan hipotesa awal yang di pahaminya.
Untuk dapat membuat peserta didik aktif dalam pembentukan pengetahuan itu, sebagai pendidik setidaknya harus dapat memberi stimulus yang dapat merangsang mereka mengekspresikan gagasan yang mereka miliki.
Dalam pemberian stimulus atau rangsangan tersebut, pendidik dituntut untuk dapat memahami dan menguasai materi ajar yang akan disamapaikan kepada peserta didik. Penguasaan dan wawasan luas akan dapat memungkinkan pendidik dapat menerima gagasan berbeda yang di tujukan oleh peserta didik. Menuntun peserta didik agar pengetahuan atau gagasan yang disampaikannya sesuai dengan kaidah dan tujuan pendidikan yang semestinya.
Dan yang terakhir, pendidik harus dapat memonitor dan mengevaluasi mengenai pemikiran dan gagasan dari peserta didik itu. Apakah pemikirannya berjalan, atau hanya pasrah menerima alasan atau transfusi pengetahuan dari pendidik. Pendidik mampu membantu mengevaluasi hipotesa dan kesimpulan yang dibuat oleh peserta didik.
Setelah tadi pembahasan mengenai peranan pendidik, disini kita akan dibawa mengenai peranan peserta didik menurut aliran konstruktivisme. Dalam pemahaman konstruktivisme peserta didik adalah subyek dalam pendidikan. Dia harus mampu menciptakan dan membentuk pengetahuan mereka sendiri melalui interkasi dengan dunia. Konstruktivisme tidak memposisikan seorang peserta didik itu sebuah wadah kosong yang pendidik terus mengisinya hingga penuh seperti dalam filsafat pendidikan klasik. Disini peserta didik diberi kebebasan penuh untuk membangun kepercayaan dan pengetahuan mereka sendiri, dengan di monitor oleh pendidik. Mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka sampaikan, atau hasil dari apa yang ia pelajari. Konstruktivisme dalam pembelajaran memiliki ciri-ciri tersendiri, berikut pemaparannya.
Yang pertama yaitu mengenai aktifnya peserta didik dalam membina pengetahuan yang berdasarkan pada pengalaman-pengalaman yang sudah ada. Berbekalkan pengalaman, siswa mencari tahu lebih lanjut mengenai makna, pengertian, dan hal-hal apa saja yang termuat dalam pengalaman tersebut.
Peserta didik membangun dan membina pengetahuan dengan sendirinya, tidak seperti panci kosong yang diisi air. Tidak dengan pendidik yang teru menerus menuangkan pemikirannya kepada peserta didik.
Proses dari pembinaan pengetahuan pada peserta didik ini, saling mempengaruhi dari pengalaman terdahulu dengan kenyataan yang sekarang. Erat kaitannya hal tersebut karena berkembangnya proses berpikir peserta didik, yang semakin maju menuntut pada idealisnya sebuah pendidikan.
Selain proses pembinaan, perbandingan informasi baru dengan pengalaman yang telah lalu menjadi sebuah bahan diskusi yang dapat membuka lebih luas wawasan yang dimiliki peserta didik.
Ketidaksamarataan dalam berfikir, atau perbedaan pendapat adalah salah satu dari motivasi belajar yang utama dalam pembangunan pengetahuan.
Pendidik membuat bahan pengajaran yang dikaitkan dengan pengalaman untuk menarik minat dan bakat dalam pembelajarannya.
Pengetahuan yang dimaksudkan oleh konstruktivisme adalah konteks berfikir yang mendasar untuk membangun sebuah bangunan pengetahuan yang kokoh yang dapat di terapkan dalam pengetahuan selanjutnya.
II.8 Pengertian Pancasila
Sebagai bangsa indonesia , kita patut mengerti dan memahami apa pancasila itu . Pancasila berasal dari dua kata yakni panca dan sila, menurut bahasa sanskerta. Sehingga mengandung arti lima buah prinsip atau asas. Asas - asas atau prinsip tersebut antara lain :
Ketuhanan yang maha esa
Kemanusiaan yang adil dan beradap
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyarawatan / perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
II.9 Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman, Kebudayaan adalah sarana hasil karya , rasa , dan cipta masyarakat.
Ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaan adalah antropologi. Segala perkembangan budaya dan perubahan masyarakat di pelajari dalam ilmu antropologi. Ilmu ini tidak hanya mencakup perubahan secara tingkah laku saja, namun sejarah dan konflik yang terjadi juga dapat dianalisis melalui ilmu antropologi.
II.10 Kebudayaan Dan Pancasila
Kebudayaan Indonesia ialah kebudayaan yang berdasarkan Pancasila. Ada dua hal yang dikandung dalam Pancasila, Yaitu Pluralisme dan Teosentrisme. Demokrasi terletak dalam partisipasi seluruh warga negara dalam kebudayaan. Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan Indonesia yang telah ada sebelum terbentuknya negara Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan tempat yang berasal daripada kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam suku - suku. Kebudayaan tersebut telah mengikat dan mempersatukan setiap kelompok suku bangsa Indonesia. Budaya kelompok akan tercermin dalam sikap atau kepribadian kelompok itu. Hal ini dapat dilihat saat kebudayaan kelompok pertama kali membentuk kita sebagai manusia yang menganut dan menghargai nilai-nilai bersama. Dengan demikian kelompok suku bangsa akan tumbuh menjadi manusia berbudaya dengan “kondisioning” terhadap nilai-nilai masyarakat sekitar, melalui orang tua dan keluarga.
II.11 Pancasila Berakar Dari Kebudayaan
Kita telah mengetahui bahwa kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang berdasarkan pancasila. Itu berarti berkaitan erat dengan kebudayaan Indonesia. Kebudayaan juga dapat diartikan sebagai nilai atau simbol . Kita gambarkan sebagai suatu perusahaan. Dalam sebuah perusahaan yang sibuk, Kegiatan yang nampaknya bersifat praktis dan sehari-hari saja, misalnya, ada aspek kebudayaannya, ada nilai dan simbolnya. Nilai terletak pada kerja kerasnya, sedangkan simbol modernitas ialah sistem organisasi, makin modern sistem semakin abstrak yang impersonal, berbeda dengan managemen perorangan atau keluarga. Begitu juga Indonesia sebagai bangsa dan negara. Kebudayaan itulah yang memberi ciri khas ke Indonesiaan. Hasil perkembangan kebudayaan pancasila yang paling spektakuler adalah Bahasa Indonesia. Karena melalui bahasa indonesia, Koneksi sosial antar etnis dan kebudayaan dapat terjalin dengan sangat baik.
Pluralisme mengatur hubungan luar antar kebudayaan, prinsip yang mengatur substansi Demokrasi kebudayaan yang berdasar Pancasila ialah teosentrisme ( tauhid, serba - Tuhan dalam etika, Ilmu, dan estetika). Orang protestan akan lebih suka theonomy ( theos, Tuhan: Nomos, hukum). Istilah teonomi berasal dari Paul Tillich ( 1886 - 1965 ), hubungan dinamis antara yang absolut dengan yang relatif, antara agama dengan kebudayaan . Menurut konsep ini Pancasila adalah sebuah teonomi , karena berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Keempat sila yang lain adalah kebudayaan , yang relatif. Keperluan manusia diakui sepenuhnya, asal keperluan itu tidak bertentangan dengan pertimbangan keagamaan.
Demokrasi kebudayaan dalam Pancasila dapat dimengerti dari sila “Persatuan Indonesia” yang berarti sebuah Pluralisme
Teosentrisme dari semangat sila yang pertama “Ketuhanan Yang Maha esa” . Demokrasi kebudayaan itu harus mampu memberikan masa depan yang lebih.
Jadi untuk menjawab “Mengapa Pancasila Berakar Dari Kebudayaan ?” Karena di dalam Pancasila dapat terkandung nilai kebudayaan, di mana nilai tersebut adalah nilai tertinggi dalam hal persatuan bangsa yang tercantum di dalam sila ketiga. Dan dengan menjunjung nilai teosentris pada sila pertama, kepentingan lain berdasarkan setiap sila tidak bertentangan dengan pertimbangan keagamaan. Misalkan : Pembunuhan genosida demi mempertahankan keutuhan suatu budaya etnis tidak dengan ketentuan agama. Jadi sekiranya, dari tindak perkembangan budaya itu sendiri harus sesuai dengan nilai Pancasila. Karena Pancasila mencerminkan kebudayaan kita, bangsa Indonesia.
Landasan Filosofis Pendidikan Nasional: Pancasila
Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila yang dimaksud adalah Pancasila yang rumusannya termasuk dalam “Pembukaan” Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena Pancasila adalah dasar Negara Indonesia, implikasinya adalah dasar pendidikan nasional. Sejalan dengan ini Pasal 2 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang “ Sistem Pendidikan Nasional” menyatakan bahwa: “ Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”. Pancasila berisi gagasan - gagasan dasar bernegara atau falsafah kenegaraan, karena itu, Pancasila juga adalah falsafah pendidikan nasional atau landasan idiil pendidikan nasional.
Sehubungan dengan hal di atas, bangsa Indonesia memiliki landasan filosofis pendidikan tersendiri dalam sistem pendidikan nasionalnya, yaitu Pancasila. Walaupun seperti itu, landasan filosofis pendidikan dari berbagai aliran lainnya tetap perlu kita kaji dengan tujuan untuk memahaminya, memilih dan memilah gagasan – gagasannya yang positif yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pncasila untuk diambil hikmahnya demi pengembangan dan memperkaya kebudayaan (pendidikan) kita.
Konsep Filsafat Umum
Hakekat Realitas. Termasuk dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa hakikat bangsa Indonesia adalah berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan perjuangan yang didorong oleh keinginan luhur untuk mencapai dan mengisi kemerdekaan. Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa realitas juga tidak bersifat given (terberi) dan final, melainkan juga “mewujud” sebagaimana kita manusia dan semua anggota alam semesta berpartisipasi “mewujudkannya”.
Hakikat Manusia. Manusia adalah mahluk Tuham Yang Maha Esa. Pancasila mengajarkan bahwa eksisitensi manusia bersifat monopluralis tetapi bersifat integral, artinya bahwa manusia yang serba dimensi itu hakikatnya adalah satu kesatuan utuh. Pancasila menganut asas Ketuhanan Yang Maha Esa: manusia diyakini sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, mendapat panggilan tugas dariNya, dan harus mempertanggungjawabkan segala amal pelaksanaan tugasnya terhadap Tuhan Yang Maha Esa (aspek religius).
Epistemologi: Hakikat Pengetahuan. Segala pengetahuan hakikatnya bersumber dari Sumber Pertama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan telah menurunkan pengetahuan baik melalui Utusan-Nya (berupa wahyu) maupun melalui berbagai hal yang digelarkanNya di alam semesta termasuk hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.
Aksiologi: Hakikat Nilai. Sumber Pertama segala nilai hakikatnya adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena menusia adalah mahluk Tuhan, pribadi/individual dan sekaligus insan sosial, maka hakikat nilai diturunkan dari Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan individu.
Implikasi terhadap Pendidikan
Tujuan Pendidikan, Pandangan pancasila tentang hakikat realitas, manusia, pengetahuan dan hakikat nilai mengimplikasikan bahwa pendidikan seyogyanya bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan pendidikan tersebut hendaknya kita sadari betul, sehingga pendidikan yang kita selenggarakan bukan hanya untuk mengembangkan salah satu potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu saja, bukan hanya untuk terampil bekerja saja, melainkan demi berkembangnya seluruh potensi peserta didik dalam konteks keseluruhan dimensi kehidupannya secara integral.
Kurikulum Pendidikan. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
Peningkatan iman dan takwa
Peningkatan akhlak mulia
Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik
Keragaman potensi daerah dan lingkungan.
Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
Tuntutan dunia kerja
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Agama
Dinamika perkembangan global
Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksudkan di atas di atur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 36 UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Metode Pendidikan, Berbagai metode pendidikan yang ada merupakan alternatif untuk diaplikasikan. Sebab, tidak ada satu metode mengajar pun yang terbaik dibanding metode lainnya dalam segala konteks pendidikan.
Peranan Pendidik dan Peserta Didik. Ada berbagai peranan pendidik dan peserta didik yang harus dilaksanakannya, namun pada dasarnya berbagai peranan tersebut tersurat dan tersirat dalam semboyan :”ing madya mangun karso”,artinya pendidik harus mampu membangun karsa pada diri peserta didiknya; “ tut wuri handayani” artinya bahwa sepanjang tidak berbahaya pendidik harus memberi kebebasan atau kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri.
Orientasi Pendidikan. Pendidikan memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi konservasi dan fungsi kreasi. Fungsi konservasi dilandasi asumsi bahwa terdapat nilai - nilai, pengetahuan, norma , kebiasaan - kebiasaan, yang dijunjung tinggi dan dipandang berharga untuk tetap dipertahankan. Adapun fungsi kreasi dilandasi asumsi bahwa realitas tidaklah bersifat terberi (given) dan telah selesai sabagaimana diajarkan oleh sains modern. Dalam hal ini hakikat pendidikan seyogyanya diletakkan pada upaya-upaya untuk menggali dan mengembangkan potensi para pelajar agar mereka tidak saja mampu memahami perubahan tetapi mampu berperan sebagai agen peubahan atau perajut realitas (A.Mappadjantji Amien,2005).
BAB III
Penutup
1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini, maka dapat kita simpulkan sebagai berikut :
Kontruktivisme berasal dari kata konstruktivis dan isme yang berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri.
Komparansif pelajaran behaviorisme dan konstruktivisme meliputi pandangan dan pembelajaran strategi serta evaluasi.
Pembelajaran menurut konstruktivisme yaitu kegiatan belajar yang aktif, dimana siswa mampu membangun sendiri pengetahuannya.
Kendala – kendala dalam penerapan pembelajaran menurut konstruktivisme yaitu : sulit mengubah keyakinan dan kebiasaan guru, guru kurang tertarik dan mengalami kesulitan mengelola kegiatan pembelajaran berbasis konstruktivisme
Kita telah melihat dan membaca bahwa pancasila memang berakar dari kebudayaan bangsa Indonesia. Karena dari segi pancasila terkandung kebudayaan yang menekankan persatuan serta sebaliknya. Tidak lupa dari segi pengertian pancasila yang merupakan lima asas atau prinsip yang harus dijunjung tinggi sebagai bangsa Indonesia.
Pandangan pancasila tentang hakikat realitas, manusia, pengetahuan dan hakikat nilai mengimplikasikan bahwa pendidikan seyogyanya bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam pasal UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bangsa Indonesia memiliki landasan filosofis pendidikan tersendiri dalam sistem pendidikan nasionalnya, yaitu Pancasila. Walapun seperti itu, landasan filosofis pendidikan dari berbagai aliran lainnya tetap perlu kita kaji dengan tujuan untuk memahaminya, memlilih dan memilah gagasan - gagasannya yang positif yang tidak bertentangan dengan nilai – nilai Pancasila untuk diambil hikmahnya demi pengembangan dan memperkaya kebudayaan (pendidikan) kita.
2. Saran
Dengan adanya makalah ini semoga pembaca lebih memahami dan mengerti akan landasan filosofis pendidikan, apalagi kita sebagai warga negara Indonesia khususnya yang akan menjadi guru harus dapat menerapkannya jika akan menjadi pendidik. Serta tidak lupa juga bahwa walaupun kita memiliki landasan filosofi pendidikan nasional kita harus tetap mempelajari dan memahami landasan filosofis yang lain demi mengembangkan dan memperbaiki negara Indonesia.
Demikianlah makalah berjudul “Landasan Filosofi Pendidikan Konstruktivisme dan Landasan Pendidikan Nasional (Pancasila)” ini kami buat berdasarkan sumber - sumber yang ada. Sehingga perlulah bagi kami, dari para pembaca untuk memberikan saran yang membantu supaya makalah ini mendekati sempurna. Atas perhatian Anda semua, kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Syaripudin Tatang dan Kurniasih, (2015), Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Percikan Ilmu
Suparno, (1997, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Filsafat
Nadhira, A.N, “Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan”, 25 Februari 2014, http://nadianadhirah.wordpress.com/2014/02/25/filsafat-konstruktivisme-dalam-pendidkan/
Jalaludin,H dan Abdullah Idi. 1997.Fisafat Pendidikan (Manusia,Filsafat,
pendidikan). Jakarta: Gaya Media Pratama
Mahmuddin. (2009). Landasan Filosofi Pendidikan. Tersedia
http://mahmuddin.wordpress.com/2009/10/19/landasan-filosofi-pendidikan-pengantar/
Landasan filosofis pendidikan kontruktivisme dan pendidikan nasional (pancasila)
Dosen pembimbing : Mustakim JM, M.Pd.
Kelompok 4 : Mery Popiyana (1888203010)
Shella Widia (1888203007)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
PEKANBARU
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkonstribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami, semoga, makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadia lebih baik lagi.
Karna keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah landasan filosofi kontruktivisme dan pendidikan nasional (Pancasila) semoga dapat menambah inspirasi terhadap para pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I 1
Pendahuluan 1
I.1. Latar Belakang 1
I.2 Rumusan Masalah 2
I.3 Tujuan Pembelajaran 2
BAB II 3
Pembahasan 3
II. 1 Pengertian Konstruktivisme 3
Ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme 3
Prinsip - Prinsip Konstruktivisme 4
II.2 Pembelajaran Menurut Konstruktivisme 5
II.3 Kendala - Kendala Dalam Penerapan Pembelajaran Menurut Konstruktivisme 6
II.4 Pengertian Filsafat Konstruktivisme 6
Filsafat Konstruktivisme 7
II.5 Konsep Filsafat Umum 7
1. Metafisika 7
2. Epistemologi dan Aksiologi 9
II.6 Implikasi terhadap Pendidikan 10
II.7 Tujuan Pendidikan Aliran Konstruktivisme 11
1. Kurikulum pemdidikan menurut aliran konstruktivisme 11
2. Metode Pendidikan Konstruktivisme 12
3. Peranan Pendidik dan Peserta didik 12
II.8 Pengertian Pancasila 15
II.9 Kebudayaan 16
II.10 Kebudayaan Dan Pancasila 16
II.11 Pancasila Berakar Dari Kebudayaan 17
Landasan Filosofis Pendidikan Nasional: Pancasila 18
Implikasi terhadap Pendidikan 19
BAB III 22
Penutup 22
1. Kesimpulan 22
2. Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 24
BAB I
Pendahuluan
I.1. Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya tingkat kehidupan maka pendidikan pun menjadi lebih kompleks , oleh karena itu, tentu saja hal ini membutuhkan sebuah desain pendidikan yang tepat dan sesuai dengan kondisinya. Sehingga berbagai teori , metode dan desain pembelajaran serta pengajaranpun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasikan semakin beragamnya tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan itu sendiri. Yakni bagaimana menciptakan sebuah kehidupan lebih baik yang tercipta dari proses pendidikan yang konstektual dan mampu menyerap aspirasi zaman tepat dan sesuai .
Guru di dalam melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih optimal, Selayaknya seorang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing - masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar, Namun setidak - tidaknya ada karakteristik tertetu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan pembelajaran adalah pendekatan kontruktivisme. Martin EL AL ( Dalam Getson Ratumanan 2012) Mengemukakan bahwa kontruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling memengaruhi dari belajar sebelum dengan belajar baru. Selain itu landasan pendidikan pancasila terdapat nilai-nilai pancasila yang berakar dari budaya bangsa indonesia sebagai bangsa indonesia. Kita tentu mengetahui dasar negara kita yang terkenal akan kesaklarannya, Yaitu “ BHINEKA TUNGGAL IKA”. Dimana simbolnya merupakan lambang keagungan bangsa indonesia yang terpancar dalam bentuk Burung Garuda . Simbol didadanya merupakan pengalaman hidup yang menjadikan indonesia benar - benar khas ideologi dari bangsa indonesia. Tidak jauh dari hal tersebut, pancasila membuat indonesia tetap teguh dan bersatu didalam keragaman budaya dan menjadikan pancasila sebagai dasar kebudayaan yang menyatukan budaya satu dengan budaya lain
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
Apa yang dimaksud dengan kontruktivisme?
Bagaimana Pembelajaran menurut kontruktivisme?
Apa saja kendala – kendala dalam penerapan pembelajaran menurut kontruktivisme?
Apa yang dimaksud dengan filsafat kontruk?
Apa saja konsep dari filsafat kontruktivisme?
Bagaimana implikasi filsafat kontruktivisme terhadap pendidikan?
Apa tujuan pendidikan aliran kontruktivisme?
Apa yang dimaksud dengan pancasila?
Apakah yang dimaksud dengan kebudayaan?
Mengapa pancasila berakar dari kebudayaan?
Bagaimana bisa pancasila berakar dari kebudayaan di Indonesia?
I.3 Tujuan Pembelajaran
Mengetahui pengertian , ciri – ciri serta kendala – kendala dalam penerapan kontruktivisme
Mengetahui pengertian, konsep dan implikasi kontruktivisme terhadap pendidikan
Mengetahui tujuan pendidikan aliran kontruktivisme
Mengetahui pengertian dari pancasila
Mengerti arti kebudayaan, alasan pancasila berakar dari kebudayaan kita
BAB II
Pembahasan
II. 1 Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata kontruktiv dan isme. Kontruktiv berarti bersifat membina, mempelajari, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan isme dalam kamus bahasa indonesia berarti paham atau aliran . Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan dalam pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, Sedangkan guru yang membimbing siswa ketingkat pengetahuan yang lebih tinggi.
Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan bantuan fasilitas orang lain. Sedangkan menurut Martin El Al mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan bahwa pentingnya sikap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai landasan pradigma pembelajaran , Konstruktivisme menyerutkan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembangan untuk mengembangkan pengetahuan sendiri.
Ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme
Menurut suparno ( 1997:49) secara garis besar prinsip - prinsip konstruktivisme yang diambil adalah
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial.
Pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan kreativitas siswa sendiri untuk bernalar.
Siswa aktif mengkonstruksikan secara terus - menerus sehingga terjadi perubahan konsep ilmiah,
Guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Berikut ini ciri-ciri pembelajaran menurut beberapa literatur yaitu :
Pengetahuan dibangun berdasarkan pengelaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Belajar adalah proses penafsiran tentang dunia
Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan ( Negoisasi ) makna melalui bebagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Prinsip - Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar prinsip - prinsip konstruktivisme yang di terapkan dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut :
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya keaktifan menalar.
Murid aktif mengkonstruksikan secara terus - menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan lancar
Struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pernyataan.
Mencari dan menilai pendapat siswa
Menyesuaikan bahan pengajaran untuk menggapai anggapan siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.
II.2 Pembelajaran Menurut Konstruktivisme
Siswa mencari arti sendiri yang dari mereka pelajari, ini merupakan proses penyesuaikan diri konsep - konsep dan ide - ide baru yang dengan membentuk kerangka pikiran yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk pengetahuan sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu.
Proses perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal yang telah dimaksud disini adalah suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan memperhatikan perspektif siswa sekolah dasar. Pembelajaran yang dimaksud adalah diatas pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa, menerangkan pada kemampuan mind - on serta terjadi insteraksi dan mengakui adanya konsep awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
Dalam pelaksanaan teori konstruktivisme ada beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran yaitu sebagai berikut :
Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa.
Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
Adanya lingkungan sosial yang komperansif
Adanya dorongan agar siswa mandiri
Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
II.3 Kendala - Kendala Dalam Penerapan Pembelajaran Menurut Konstruktivisme
Kendala-kendala yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Sulit mengubah keyakinan dan kebiasaan guru.
Guru kurang tertarik dan mengalami kesulitan mengelola kegiatan pembelajaran berbasis konstruktivisme.
Adanya anggapan guru bahwa penggunaan metode atau pendekatan baru dalam pembelajaran akan menggunakan waktu yang cukup besar
Sistem evaluasi yang masih menekankan pada nilai akhir.
Besarnya beban mengajar guru, latar pendidikan tidak sesuai dengan mata pembelajaran yang diasuh dan banyaknya pelajaran yang harus dipelajari siswa merupakan cukup serius.
Siswa terbiasa menunggu informasi dari guru.
II.4 Pengertian Filsafat Konstruktivisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Konstruksi berarti Binaan, Bangunan, atau Bentukan. Sedangkan Isme adalah aliran. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, membangun atau membentuk. Dapat disimpulkan pengertian Konstruktivisme adalah aliran-aliran yang bersifat membangun, memperbaiki atau membentuk suatu kebenaran.
Konstruktivisme adalah sebuah pengetahuan yang dianggap benar apabila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomenayang tidak sesuai.
Filsafat konstruktivisme adalah sebuah aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kita sendiri. Giambatista Vico seorang epistemolog dari Italia mengatakan mengenai konstruktivisme “..seseorang dapat dipandang mengetahui jika ia dapat menjelaskan unsur - unsur yang membangun sesuatu itu serta mengetahui bagaimana membuat sesuatu itu”. Dari hal tersebut sudah dapat di simpulkan mengenai pengertian Aliran Filsafat Konstruktivisme, sebagai aliran pemikiran yang menganggap bahwa pengetahuan itu berasal dari aktifnya pemikiran seorang individu dalam konstruksi atau bentukan diri sendiri.
Filsafat Konstruktivisme
Para penganut faham ini meyakini bahwa panca indra lah satu-satunya alat, sarana, atau media yang tersedia bagi seorang individu untuk mengetahui segala sesuatu. Seseorang berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara melihat, mendengar, mencium, dan merasa untuk membangun gambaran dunianya, untuk membangun membentuk suatu pengetahuan dan kebenaran. Simpulnya konstruktivisme mengajarkan hakikat kebenaran itu ialah apa-apa yang dibangun indra kita. Manusia adalah obyek yang menjadi subyek dalam realitas alam semesta.
II.5 Konsep Filsafat Umum
1. Metafisika
Hakikat Realitas : menurut pemahaman konstruktivisme, bahwa manusia tidak dapat pernah mengerti realitas sesungguhnya secara ontologis (hakikat keberadaan). Kita hanya dapat mengerti mengenai struktur konstruksi dari suatu obyek. Bentukan atau konstruksi itu harus berjalan dan tidak harus selalu merupakan representasi dunia nyata. Mengenai hal ini Vico meyakini bahwa hanya Tuhan-lah yang dapat mengerti alam raya ini, sebab hanya dia yang tau bagaimana membuatnya. Sedangkan manusia hanya mengerti apa yang di konstruksikannya. Konstruktivisme tidak bertujuan untuk kita dapat mengerti mengenai realitas secara ontologis, tetapi lebih melihat pada bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu. Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang yang mengetahui, maka hal itu tidak dapat di berikan atau di ajarkan kepada individu nyang pasif, seorang individu yang menerima informasi haruslah membangun kembali apa yang ia dapat, lingkungan atau obyek lainnya hanya sebuah sarana untuk terjadinya sebuah konstruksi.
Dalam realitasnya, konstruktivisme menolak prinsip independensi atau prinsip berdiri sendiri dan obyektivitas dari filsafat Realisme atau Empirisme,yang menyatakan bahwa realitas berdiri sendiri, tidak tergantung atau bersandar pada pikiran, jiwa, spirit, maupun roh. Keberadaan realitas berdiri sendiri terlepas dari subyek pengamat,namun terbuka untuk dapat diketahui melalui pengalaman empiris.
Konstruktivisme pun menolak pandangan dari filsafat Idealisme yang mengungkapkan bahwa realitas yang hakiki bersifat ideal/spiritual. Realitas dalam Idealisme diturunkan dari substansi fundamental yang bersifat non-material. Benda-benda yang bersifat material yang tampak nyata sesungguhnya di ciptakan dari pikiran/jiwa/roh. Sedangkan dalam konsep konstruktivisme realitas itu tiada lain adalah fenomena sejauh dari apa yang difahami oleh orang yang menangkapnya.
Dalam konstruktivisme bentuk kenyataan bergantung pada kerangka bentukan yang dibuat individu dan dari interaksi pengamatan individu dengan obyek yang ia amati. Demikian para ahli konstruktivisme tidak bertujuan untuk mengerti realitas, tetapi lebih melihat bagaimana individu atau manusia menjadi tahu akan suatu hal.
Manusia : Dalam pandangan konstruktivisme, manusia dipandang bukan sebagai tabula rasa, tetapi manusia dituntut untuk aktif membangun pengetahuannya sendiri. Manusia dalam konstruktivisme dipandang sebagai obyek yang menjadi subyek dimana hanya Tuhan-lah yang tahu akan makna realitas, dan manusia hanya mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan oleh dirinya. Giambatista Vico mengatakan dalam karyanya Antiquissima Itolarum Sapienta. Ia mengatakan “..Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Tuhan sebagai subyek utama kemudian menciptakan alam semesta beserta isinya dan menciptakan manusia, dan kemudian manusia menjadi subyek dari apa-apa yang Tuhan ciptakan. Mengkonstruksi, membangun dan membina obyek dengan sarana indera nya yang menjadi sebuah pengetahuan.
2. Epistemologi dan Aksiologi
Giambatista Vico seorang epistemolog asal Italia yang juga tokoh dari cikal bakal terbentuknya pemahaman mengenai konstruktivisme, atau dapat di katakan sebagai filosof konstruktivisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan berasal dari luar, atau apa - apa yang tergelar di alam semesta yang kemudian di konstruksikan dari dalam diri individu melalui panca inderanya. Dilihat dari beberapa penjabarannya konstruktivisme memuat beberapa filsafat lain, dalam pernyataan bahwa sumber pengetahuan berasal dari luar hal ini seperti mengutip dari faham realisme. Realisme meyakini pengetahuan yang didapat berasal dari hal-hal yang nyata diluar sana, bukan berasal dari pemikiran manusia. Selain realisme, konstruktivisme pun memuat filsafat idealisme yang menyatakan bahwa sumber pengetahuan diperoleh dari proses berfikir manusia. Hal ini sesuai dengan penjabaran konstruktivisme yang meyakini bahwa penetahuan itu dibangun, dikonstruksikan oleh diri individu itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa filsafat konstruktivisme adalah muatan dari filsafat realisme dan idealisme.
Bagi para penganut kepercayaan konstruktivisme pengetahuan itu bukanlah sekedar potret kenyataan dunia semata, tetapi pengetahuan adalah hasil dari konstruksi atau bentukan melalui kegiatan subyek. Dimana subyek itu adalah manusia itu sendiri. Pengetahuan yang dibentuk ini selalu merupakan konsekuensi dari konstruksi kognitif mengenai kenyataan melalui kegiatan seseorang.
Kebenaran pengetahuan dalam konstruktivisme diganti dengan viability. Yang dengan viabilitas ini, konstruktivisme hanya mementingkan berlakunya suatu konsep, maka pengetahuan manusia ada tingkatannya, diantaranya ada pengetahuan yang berlaku untuk banyak persoalan dan pengetahuan yang hanya cocok untuk beberapa persoalan saja. Dari kebenaran ini pengetahuan memiliki sifat-sifat, bersifat subyektif karena pengetahuan konstruktivisme menunjuk pada pengalaman dan pemikiran seseorang akan dunia, daripada dunia itu sendiri. Pengetahuan itu tidak dapat ditransfer kepada individu lain dengan mudah dapat dicerna oleh yang menerima pengetahuan itu. Pengetahuan dalam konteks konstruktivisme bukan barang yang sekaligus terbentuk, bukan sebuah determenistik, melainkan sebuah proses yang terus berkembang secara kontinyu dan karena itu pengetahuan bersifat relatif. Sehingga menghasilkan sebuah nilai yang bersifat relatif juga bagi penganut konstruktivisme.
II.6 Implikasi terhadap Pendidikan
Konstruktivisme dikenal dalam dunia pembelajaran dengan tokohnya yaitu Jean Piaget (1896 - 1980) dan Lev Vygotsky (1896 - 1934) Piaget mengembangkan teori mengenai perkembangan anak dan kaitannya sebagai belajar. Terdapat dua proses utama yaitu proses asimilasi dan akomodasi yang terjadi ketika individu menggunakan kedua proses tersebut untuk membangun pengetahuan dan pemahamnnya. Dalam tujuan pendidikan nasional yaitu untuk membantu generasi muda Indonesia menjadi manusia yang utuh, menjadi manusia yang sesungguhnya, yang pandai secara kognitif, bermoral sesuai landasan Negara, berbudi luhur, beriman, peka terhadap orang lain, dan yang lainnya.
Penetahuan menurut filsafat konstruktivisme berbeda dengan filsafat klasik, bahwa pengetahuan itu adalah bentukan para peserta didik sendiri. Pendidikan yang di istilahkan oleh konstruktivisme adalah kegiatan mengajar, tetapi bukan mengajar dalam arti mentransfer pengetahuan dari seorang guru kepada murid, mengadar dalam artian konstruktivisme lebih kepada kegiatan untuk siswa/peserta didik membangun dan membentuk pengetahuannya sendiri.
Mengajar yang berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam pengkonstruksian sebuah pengetahuan. Membuat makna, bersikap kritis, dan mempertanyakan pengetahuan, juga mengambil keputusan dari pengetahuan tersebut, atau justrufikasi. Menurut Von Glasersfeld, mengajar dalam konteks ini adalah membantu seorang individu berpikir secara benar, dengan membiarkan dia berpikir sendiri.
Teori konstruktivisme merupakan suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk melakukan proses aktif dalam membangun konsep, pengertian, dan pengetahuan baru berdasarkan data yang diperoleh oleh inderanya. Para tenaga pengajar harus dapat merancang proses pembelajaran dan di kelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong para peserta didik untuk mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Para tenaga pengajar setidaknya menyediakan sarana dan prasarana, juga situasi yang memungkinkan terjadinya sebuah dialog secara kritis perlu dikembangkan.
II.7 Tujuan Pendidikan Aliran Konstruktivisme
Menurut faham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari sebuah teks, ucapan, dialog dan yang lainnya melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian atau pemikiran yang dimiliki seseorang. Tujuan pendidikan konstruktivisme lebih menekankan pada berkembangnya konsep dan pengetahuan yang mendalam sebagai konstruksi aktif dari peserta didik. Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal.
Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau mekanisme pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidikan.
1. Kurikulum pemdidikan menurut aliran konstruktivisme
Kaum Konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas dasar struktur kognitif yang telah dimiliki oleh tiap individu. Hal ini berimplikasi pada proses belajar yang menekankan aktivitas personal peserta didik. Atas dasar pemahamannya, pendidik dituntut untuk merancang pengalaman belajar dan merangsang struktur kognitif anak didiknya untuk dapat berfikir, dan berinteraksi membangun pengetahuan yang baru. Driver dan Oldham (Matthews, 1994) menyatakan, bahwa perencanaan dalam pembuatan kurikulum yang beraliran filsafat konstruktivisme tidak dapat dibuat dengan begitu saja,tidak dengan mengambil kurikulum standar yang menekankan siswa pasif dan guru aktif, sebagai cara mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid. Dalam hal ini pendidik bukanlah seorang yang maha tahu, dan peserta didik adalah yang belum tahu, yang menekankan pendidik untuk memberi tahu. Dalam kurikulum bukanlah sebagai tubuh pengetahuan atau kumpulan keterampilan mengajar, tetapi lebih kepada program aktivitas dimana keterampilan dan pengetahuan dapat dikonstruksikan. Dalam banyak hal pendidik dan peserta didik bersama-sama membangun pengetahuan. Dalam hal ini hubungan diantara keduanya lebih sebagai mitra yang bekerja sama membangun sebuah pengetahuan.
2. Metode Pendidikan Konstruktivisme
Menurut Paul Suparno (1997), setiap pelajar memiliki caranya masing-masing dalam memahami sebuah pengetahuan,. Karenanya mereka memerlukan cara belajar yang tepat untuk dirinya masing-masing. Dalam konteks ini tidak ada metode belajar yang tepat, satu metode belajar saja tidak akan cukup membantu peserta didik. Sehingga disinilah peran pendidik dibutuhkan, para pendidik ini menjadi kolega peserta didik dalam membangun dan mencari tahu cara metode apa yang cocok untuk peserta didik dapat membangun pengetahuannya. Kelompok belajar pun dapat dikembangkan, mengingat pengetahuan itu dibentuk baik secara individual,maupun sosial.
3. Peranan Pendidik dan Peserta didik
Pendidikan sangat berperan penting dalam keseluruhan hidup manusia. Pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik, untuk memenuhi tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terdapat isi yang di interakasikan oleh keduanya, dan proses bagaimana interaksi tersebut dilaksanakan.
Penerapan dalam proses pendidikan aliran konstruktivisme ini memberikan keleluasaan pada peserta didik untuk aktif dalam proses pembuatan pengetahuan yang bermakna sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki masing-masing peserta didik.
Suparno (1997:16) menyatakan bahwa peran pendidik dalam aliran konstruktivisme adalah sebagai fasilitator dan mediator yang memiliki tugas membantu dan mendorong peserta didik dalam pembentukan suatu pengetahuan. Selain itu pendidik juga wajib untuk mengevaluasi hasil dari proses pembangunan pengetahuan yang di lakukan oleh peserta didik. Mengevaluasi hasil dari gagasan yang dibentuk oleh peserta didik, apakah gagasannya sesuain dengan apa yang menjadi tujuan pendidikan ataukah tidak. Dari beberapa penjabaran di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa kriteria tugas ideal sebagai pendidik dalam aliran konstruktivisme, diantaranya :
Berperan sebagai fasilitator pendidik haruslah dapat menerima inisiatif yang di ungkapkan oleh peserta didik untuk membantu proses pengetahuan.
Sebagai kolega dari peserta didik, pendidik dapat merangsang peserta didik dalam proses dialog/interaksi untuk dapat mengukur sampai mana batas berpikir peserta didik tersebut.
Jika tadi pendidik harus dapat merangsang untuk peserta didik dapat terlibat dalam interaksi, dalam hal ini pendidik harus bisa melibatkan atau membawa siswa pada pengalaman atau pemikiran yang mungkin sebelumnya bertentangan dengan hipotesa awal yang di pahaminya.
Untuk dapat membuat peserta didik aktif dalam pembentukan pengetahuan itu, sebagai pendidik setidaknya harus dapat memberi stimulus yang dapat merangsang mereka mengekspresikan gagasan yang mereka miliki.
Dalam pemberian stimulus atau rangsangan tersebut, pendidik dituntut untuk dapat memahami dan menguasai materi ajar yang akan disamapaikan kepada peserta didik. Penguasaan dan wawasan luas akan dapat memungkinkan pendidik dapat menerima gagasan berbeda yang di tujukan oleh peserta didik. Menuntun peserta didik agar pengetahuan atau gagasan yang disampaikannya sesuai dengan kaidah dan tujuan pendidikan yang semestinya.
Dan yang terakhir, pendidik harus dapat memonitor dan mengevaluasi mengenai pemikiran dan gagasan dari peserta didik itu. Apakah pemikirannya berjalan, atau hanya pasrah menerima alasan atau transfusi pengetahuan dari pendidik. Pendidik mampu membantu mengevaluasi hipotesa dan kesimpulan yang dibuat oleh peserta didik.
Setelah tadi pembahasan mengenai peranan pendidik, disini kita akan dibawa mengenai peranan peserta didik menurut aliran konstruktivisme. Dalam pemahaman konstruktivisme peserta didik adalah subyek dalam pendidikan. Dia harus mampu menciptakan dan membentuk pengetahuan mereka sendiri melalui interkasi dengan dunia. Konstruktivisme tidak memposisikan seorang peserta didik itu sebuah wadah kosong yang pendidik terus mengisinya hingga penuh seperti dalam filsafat pendidikan klasik. Disini peserta didik diberi kebebasan penuh untuk membangun kepercayaan dan pengetahuan mereka sendiri, dengan di monitor oleh pendidik. Mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka sampaikan, atau hasil dari apa yang ia pelajari. Konstruktivisme dalam pembelajaran memiliki ciri-ciri tersendiri, berikut pemaparannya.
Yang pertama yaitu mengenai aktifnya peserta didik dalam membina pengetahuan yang berdasarkan pada pengalaman-pengalaman yang sudah ada. Berbekalkan pengalaman, siswa mencari tahu lebih lanjut mengenai makna, pengertian, dan hal-hal apa saja yang termuat dalam pengalaman tersebut.
Peserta didik membangun dan membina pengetahuan dengan sendirinya, tidak seperti panci kosong yang diisi air. Tidak dengan pendidik yang teru menerus menuangkan pemikirannya kepada peserta didik.
Proses dari pembinaan pengetahuan pada peserta didik ini, saling mempengaruhi dari pengalaman terdahulu dengan kenyataan yang sekarang. Erat kaitannya hal tersebut karena berkembangnya proses berpikir peserta didik, yang semakin maju menuntut pada idealisnya sebuah pendidikan.
Selain proses pembinaan, perbandingan informasi baru dengan pengalaman yang telah lalu menjadi sebuah bahan diskusi yang dapat membuka lebih luas wawasan yang dimiliki peserta didik.
Ketidaksamarataan dalam berfikir, atau perbedaan pendapat adalah salah satu dari motivasi belajar yang utama dalam pembangunan pengetahuan.
Pendidik membuat bahan pengajaran yang dikaitkan dengan pengalaman untuk menarik minat dan bakat dalam pembelajarannya.
Pengetahuan yang dimaksudkan oleh konstruktivisme adalah konteks berfikir yang mendasar untuk membangun sebuah bangunan pengetahuan yang kokoh yang dapat di terapkan dalam pengetahuan selanjutnya.
II.8 Pengertian Pancasila
Sebagai bangsa indonesia , kita patut mengerti dan memahami apa pancasila itu . Pancasila berasal dari dua kata yakni panca dan sila, menurut bahasa sanskerta. Sehingga mengandung arti lima buah prinsip atau asas. Asas - asas atau prinsip tersebut antara lain :
Ketuhanan yang maha esa
Kemanusiaan yang adil dan beradap
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyarawatan / perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
II.9 Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman, Kebudayaan adalah sarana hasil karya , rasa , dan cipta masyarakat.
Ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaan adalah antropologi. Segala perkembangan budaya dan perubahan masyarakat di pelajari dalam ilmu antropologi. Ilmu ini tidak hanya mencakup perubahan secara tingkah laku saja, namun sejarah dan konflik yang terjadi juga dapat dianalisis melalui ilmu antropologi.
II.10 Kebudayaan Dan Pancasila
Kebudayaan Indonesia ialah kebudayaan yang berdasarkan Pancasila. Ada dua hal yang dikandung dalam Pancasila, Yaitu Pluralisme dan Teosentrisme. Demokrasi terletak dalam partisipasi seluruh warga negara dalam kebudayaan. Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan Indonesia yang telah ada sebelum terbentuknya negara Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan tempat yang berasal daripada kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam suku - suku. Kebudayaan tersebut telah mengikat dan mempersatukan setiap kelompok suku bangsa Indonesia. Budaya kelompok akan tercermin dalam sikap atau kepribadian kelompok itu. Hal ini dapat dilihat saat kebudayaan kelompok pertama kali membentuk kita sebagai manusia yang menganut dan menghargai nilai-nilai bersama. Dengan demikian kelompok suku bangsa akan tumbuh menjadi manusia berbudaya dengan “kondisioning” terhadap nilai-nilai masyarakat sekitar, melalui orang tua dan keluarga.
II.11 Pancasila Berakar Dari Kebudayaan
Kita telah mengetahui bahwa kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang berdasarkan pancasila. Itu berarti berkaitan erat dengan kebudayaan Indonesia. Kebudayaan juga dapat diartikan sebagai nilai atau simbol . Kita gambarkan sebagai suatu perusahaan. Dalam sebuah perusahaan yang sibuk, Kegiatan yang nampaknya bersifat praktis dan sehari-hari saja, misalnya, ada aspek kebudayaannya, ada nilai dan simbolnya. Nilai terletak pada kerja kerasnya, sedangkan simbol modernitas ialah sistem organisasi, makin modern sistem semakin abstrak yang impersonal, berbeda dengan managemen perorangan atau keluarga. Begitu juga Indonesia sebagai bangsa dan negara. Kebudayaan itulah yang memberi ciri khas ke Indonesiaan. Hasil perkembangan kebudayaan pancasila yang paling spektakuler adalah Bahasa Indonesia. Karena melalui bahasa indonesia, Koneksi sosial antar etnis dan kebudayaan dapat terjalin dengan sangat baik.
Pluralisme mengatur hubungan luar antar kebudayaan, prinsip yang mengatur substansi Demokrasi kebudayaan yang berdasar Pancasila ialah teosentrisme ( tauhid, serba - Tuhan dalam etika, Ilmu, dan estetika). Orang protestan akan lebih suka theonomy ( theos, Tuhan: Nomos, hukum). Istilah teonomi berasal dari Paul Tillich ( 1886 - 1965 ), hubungan dinamis antara yang absolut dengan yang relatif, antara agama dengan kebudayaan . Menurut konsep ini Pancasila adalah sebuah teonomi , karena berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Keempat sila yang lain adalah kebudayaan , yang relatif. Keperluan manusia diakui sepenuhnya, asal keperluan itu tidak bertentangan dengan pertimbangan keagamaan.
Demokrasi kebudayaan dalam Pancasila dapat dimengerti dari sila “Persatuan Indonesia” yang berarti sebuah Pluralisme
Teosentrisme dari semangat sila yang pertama “Ketuhanan Yang Maha esa” . Demokrasi kebudayaan itu harus mampu memberikan masa depan yang lebih.
Jadi untuk menjawab “Mengapa Pancasila Berakar Dari Kebudayaan ?” Karena di dalam Pancasila dapat terkandung nilai kebudayaan, di mana nilai tersebut adalah nilai tertinggi dalam hal persatuan bangsa yang tercantum di dalam sila ketiga. Dan dengan menjunjung nilai teosentris pada sila pertama, kepentingan lain berdasarkan setiap sila tidak bertentangan dengan pertimbangan keagamaan. Misalkan : Pembunuhan genosida demi mempertahankan keutuhan suatu budaya etnis tidak dengan ketentuan agama. Jadi sekiranya, dari tindak perkembangan budaya itu sendiri harus sesuai dengan nilai Pancasila. Karena Pancasila mencerminkan kebudayaan kita, bangsa Indonesia.
Landasan Filosofis Pendidikan Nasional: Pancasila
Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila yang dimaksud adalah Pancasila yang rumusannya termasuk dalam “Pembukaan” Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena Pancasila adalah dasar Negara Indonesia, implikasinya adalah dasar pendidikan nasional. Sejalan dengan ini Pasal 2 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang “ Sistem Pendidikan Nasional” menyatakan bahwa: “ Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”. Pancasila berisi gagasan - gagasan dasar bernegara atau falsafah kenegaraan, karena itu, Pancasila juga adalah falsafah pendidikan nasional atau landasan idiil pendidikan nasional.
Sehubungan dengan hal di atas, bangsa Indonesia memiliki landasan filosofis pendidikan tersendiri dalam sistem pendidikan nasionalnya, yaitu Pancasila. Walaupun seperti itu, landasan filosofis pendidikan dari berbagai aliran lainnya tetap perlu kita kaji dengan tujuan untuk memahaminya, memilih dan memilah gagasan – gagasannya yang positif yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pncasila untuk diambil hikmahnya demi pengembangan dan memperkaya kebudayaan (pendidikan) kita.
Konsep Filsafat Umum
Hakekat Realitas. Termasuk dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa hakikat bangsa Indonesia adalah berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan perjuangan yang didorong oleh keinginan luhur untuk mencapai dan mengisi kemerdekaan. Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa realitas juga tidak bersifat given (terberi) dan final, melainkan juga “mewujud” sebagaimana kita manusia dan semua anggota alam semesta berpartisipasi “mewujudkannya”.
Hakikat Manusia. Manusia adalah mahluk Tuham Yang Maha Esa. Pancasila mengajarkan bahwa eksisitensi manusia bersifat monopluralis tetapi bersifat integral, artinya bahwa manusia yang serba dimensi itu hakikatnya adalah satu kesatuan utuh. Pancasila menganut asas Ketuhanan Yang Maha Esa: manusia diyakini sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, mendapat panggilan tugas dariNya, dan harus mempertanggungjawabkan segala amal pelaksanaan tugasnya terhadap Tuhan Yang Maha Esa (aspek religius).
Epistemologi: Hakikat Pengetahuan. Segala pengetahuan hakikatnya bersumber dari Sumber Pertama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan telah menurunkan pengetahuan baik melalui Utusan-Nya (berupa wahyu) maupun melalui berbagai hal yang digelarkanNya di alam semesta termasuk hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.
Aksiologi: Hakikat Nilai. Sumber Pertama segala nilai hakikatnya adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena menusia adalah mahluk Tuhan, pribadi/individual dan sekaligus insan sosial, maka hakikat nilai diturunkan dari Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan individu.
Implikasi terhadap Pendidikan
Tujuan Pendidikan, Pandangan pancasila tentang hakikat realitas, manusia, pengetahuan dan hakikat nilai mengimplikasikan bahwa pendidikan seyogyanya bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan pendidikan tersebut hendaknya kita sadari betul, sehingga pendidikan yang kita selenggarakan bukan hanya untuk mengembangkan salah satu potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu saja, bukan hanya untuk terampil bekerja saja, melainkan demi berkembangnya seluruh potensi peserta didik dalam konteks keseluruhan dimensi kehidupannya secara integral.
Kurikulum Pendidikan. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
Peningkatan iman dan takwa
Peningkatan akhlak mulia
Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik
Keragaman potensi daerah dan lingkungan.
Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
Tuntutan dunia kerja
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Agama
Dinamika perkembangan global
Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksudkan di atas di atur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 36 UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Metode Pendidikan, Berbagai metode pendidikan yang ada merupakan alternatif untuk diaplikasikan. Sebab, tidak ada satu metode mengajar pun yang terbaik dibanding metode lainnya dalam segala konteks pendidikan.
Peranan Pendidik dan Peserta Didik. Ada berbagai peranan pendidik dan peserta didik yang harus dilaksanakannya, namun pada dasarnya berbagai peranan tersebut tersurat dan tersirat dalam semboyan :”ing madya mangun karso”,artinya pendidik harus mampu membangun karsa pada diri peserta didiknya; “ tut wuri handayani” artinya bahwa sepanjang tidak berbahaya pendidik harus memberi kebebasan atau kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri.
Orientasi Pendidikan. Pendidikan memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi konservasi dan fungsi kreasi. Fungsi konservasi dilandasi asumsi bahwa terdapat nilai - nilai, pengetahuan, norma , kebiasaan - kebiasaan, yang dijunjung tinggi dan dipandang berharga untuk tetap dipertahankan. Adapun fungsi kreasi dilandasi asumsi bahwa realitas tidaklah bersifat terberi (given) dan telah selesai sabagaimana diajarkan oleh sains modern. Dalam hal ini hakikat pendidikan seyogyanya diletakkan pada upaya-upaya untuk menggali dan mengembangkan potensi para pelajar agar mereka tidak saja mampu memahami perubahan tetapi mampu berperan sebagai agen peubahan atau perajut realitas (A.Mappadjantji Amien,2005).
BAB III
Penutup
1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini, maka dapat kita simpulkan sebagai berikut :
Kontruktivisme berasal dari kata konstruktivis dan isme yang berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri.
Komparansif pelajaran behaviorisme dan konstruktivisme meliputi pandangan dan pembelajaran strategi serta evaluasi.
Pembelajaran menurut konstruktivisme yaitu kegiatan belajar yang aktif, dimana siswa mampu membangun sendiri pengetahuannya.
Kendala – kendala dalam penerapan pembelajaran menurut konstruktivisme yaitu : sulit mengubah keyakinan dan kebiasaan guru, guru kurang tertarik dan mengalami kesulitan mengelola kegiatan pembelajaran berbasis konstruktivisme
Kita telah melihat dan membaca bahwa pancasila memang berakar dari kebudayaan bangsa Indonesia. Karena dari segi pancasila terkandung kebudayaan yang menekankan persatuan serta sebaliknya. Tidak lupa dari segi pengertian pancasila yang merupakan lima asas atau prinsip yang harus dijunjung tinggi sebagai bangsa Indonesia.
Pandangan pancasila tentang hakikat realitas, manusia, pengetahuan dan hakikat nilai mengimplikasikan bahwa pendidikan seyogyanya bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam pasal UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bangsa Indonesia memiliki landasan filosofis pendidikan tersendiri dalam sistem pendidikan nasionalnya, yaitu Pancasila. Walapun seperti itu, landasan filosofis pendidikan dari berbagai aliran lainnya tetap perlu kita kaji dengan tujuan untuk memahaminya, memlilih dan memilah gagasan - gagasannya yang positif yang tidak bertentangan dengan nilai – nilai Pancasila untuk diambil hikmahnya demi pengembangan dan memperkaya kebudayaan (pendidikan) kita.
2. Saran
Dengan adanya makalah ini semoga pembaca lebih memahami dan mengerti akan landasan filosofis pendidikan, apalagi kita sebagai warga negara Indonesia khususnya yang akan menjadi guru harus dapat menerapkannya jika akan menjadi pendidik. Serta tidak lupa juga bahwa walaupun kita memiliki landasan filosofi pendidikan nasional kita harus tetap mempelajari dan memahami landasan filosofis yang lain demi mengembangkan dan memperbaiki negara Indonesia.
Demikianlah makalah berjudul “Landasan Filosofi Pendidikan Konstruktivisme dan Landasan Pendidikan Nasional (Pancasila)” ini kami buat berdasarkan sumber - sumber yang ada. Sehingga perlulah bagi kami, dari para pembaca untuk memberikan saran yang membantu supaya makalah ini mendekati sempurna. Atas perhatian Anda semua, kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Syaripudin Tatang dan Kurniasih, (2015), Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Percikan Ilmu
Suparno, (1997, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Filsafat
Nadhira, A.N, “Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan”, 25 Februari 2014, http://nadianadhirah.wordpress.com/2014/02/25/filsafat-konstruktivisme-dalam-pendidkan/
Jalaludin,H dan Abdullah Idi. 1997.Fisafat Pendidikan (Manusia,Filsafat,
pendidikan). Jakarta: Gaya Media Pratama
Mahmuddin. (2009). Landasan Filosofi Pendidikan. Tersedia
http://mahmuddin.wordpress.com/2009/10/19/landasan-filosofi-pendidikan-pengantar/

Komentar
Posting Komentar